Evaluasi yang lebih sistematis mengenai apakah tahun 2026 tergolong tahun tidak biasa akan memerlukan perbandingan antara catatan seismik global sepanjang tahun tersebut dengan data dari tahun-tahun sebelumnya, ujar De Santis.
Wang mengatakan bahwa persepsi yang berkembang di kalangan masyarakat mengenai semakin seringnya gempa bumi terjadi sebagian berkaitan dengan peningkatan dalam pemantauan seismik dan layanan informasi.
Masyarakat kini menerima data mengenai magnitudo gempa, lokasi gempa, dan gempa susulan hampir seketika, sementara jatuhnya banyak korban akibat gempa bumi yang baru-baru ini melanda Venezuela dan Kolombia semakin meningkatkan kepekaan publik terhadap peristiwa seismik.
Serangkaian gempa bumi kuat yang terjadi berturut-turut tidak berarti bahwa negara-negara Amerika Selatan lainnya juga menghadapi kemungkinan lebih tinggi terjadinya gempa besar tahun ini, kata Wang.
Aktivitas seismik tersebut juga tidak akan merambat di sepanjang "Cincin Api" Pasifik menuju Asia sebagai reaksi berantai, imbuhnya, seraya menyebut bahwa jarak di mana perubahan tekanan akibat gempa bermagnitudo 7,5 dapat secara signifikan memicu peristiwa lain jauh lebih dekat dibandingkan jarak menyeberangi Samudra Pasifik.
Para ilmuwan juga memperingatkan agar tidak mencoba memprediksi negara mana yang mungkin akan diguncang gempa berikutnya.