Andres Folguera, seorang geolog dari Dewan Riset Ilmiah dan Teknis Nasional Argentina, juga menuturkan bahwa kedua gempa tersebut melibatkan proses geologis yang berbeda, dengan aktivitas sesar dangkal di Venezuela dan deformasi lempeng yang lebih dalam di balik gempa di Kolombia.
Operasi pencarian dan penyelamatan berlangsung di tengah reruntuhan bangunan di Cali, Kolombia, pada 13 Agustus 2026. (Xinhua/Andres Moreno)
TIDAK ADA BUKTI SIKLUS SEISMIK YANG TAK WAJAR
Wang Tun, wakil direktur di Laboratorium Utama Bahaya Gunung dan Keselamatan Teknik yang dinaungi Akademi Ilmu Pengetahuan China dan kepala Institute of Care-Life di Chengdu, menuturkan bahwa kedua episentrum berjarak sekitar 1.200 km dan tidak terdapat hubungan pemicu tekanan langsung di antara kedua gempa tersebut.
"Kedua gempa tersebut harus dianggap sebagai gempa yang tidak saling berkaitan," tuturnya.
Gempa-gempa belakangan ini, imbuh Wang, tidak mengindikasikan bahwa Lempeng Amerika Selatan memasuki periode peningkatan aktivitas.
De Santis juga menarik kesimpulan serupa, dengan mengatakan bahwa data saat ini belum memberikan dasar yang cukup untuk menilai aktivitas seismik di Amerika Selatan sebagai tidak wajar.
Menurut geolog asal Venezuela tersebut, katalog gempa bumi global menunjukkan bahwa gempa bumi kuat bukanlah peristiwa langka dalam skala dunia, dengan sekitar 15 hingga 20 gempa bermagnitudo 7 hingga 8 biasa terjadi dalam setahun.