PM2.5 merupakan partikel dengan diameter tidak lebih dari 2,5 mikrometer. Ukurannya yang sangat kecil membuatnya bisa melewati saluran napas bagian atas dan mencapai bagian terdalam paru-paru. Particulate matter juga dapat memicu efek di luar paru melalui peradangan sistemik dan komponen yang memasuki sirkulasi darah.
Udara masih dapat mengandung partikel berbahaya meski asap tidak terlihat sangat tebal.
2. Mata perih, tenggorokan gatal, sampai sesak napas
Keluhan yang bisa muncul dalam hitungan jam pasca terpapar asap karhutla antara lain:
-
- Mata terasa perih.
- Hidung dan sinus teriritasi.
- Tenggorokan terasa gatal atau sakit.
- Batuk.
- Mengi.
- Sesak atau sulit bernapas.
- Sakit kepala.
- Kelelahan.
- Nyeri dada.
- Denyut jantung terasa lebih cepat.
Pada orang dengan asma atau penyakit paru obstruktif kronis (PPOK), efeknya bisa lebih berat karena asap dapat memicu eksaserbasi atau serangan penyakit yang sebelumnya terkendali.
Metaanalisis tahun 2025 yang mencakup 45 penelitian dan lebih dari 124 juta pasien menemukan, setiap peningkatan 10 µg/m³ PM2.5 yang berasal dari kebakaran berkaitan dengan sekitar 4 persen peningkatan risiko relatif rawat inap akibat gangguan pernapasan dan 4 persen peningkatan kunjungan ke unit gawat darurat karena masalah pernapasan.
3. Anak-anak termasuk yang paling rentan
Anak menghirup lebih banyak udara dibandingkan ukuran tubuhnya daripada orang dewasa, sementara paru-paru dan sistem imunnya masih berkembang.