Agar proses belajar terasa lebih nyaman, bahasa Mandarin dapat dikaitkan dengan hal-hal yang memang digemari. Pencinta musik dapat belajar melalui lagu Mandarin, penikmat drama dapat memanfaatkan Dracin. Mereka yang suka bermain gim dapat mencari permainan atau komunitas berbahasa Mandarin, sementara orang yang senang bepergian dapat mempelajari percakapan yang nantinya berguna ketika mengunjungi China.
Pendekatan tersebut membuat bahasa tidak lagi hanya berkaitan dengan buku teks, latihan soal, dan ujian. "Bahasa itu kehidupan. Ada budaya, makanan, musik, film, sejarah, orang-orang, dan pengalaman di dalamnya," jelas pria yang berdomisili di Semarang tersebut.
Foto yang diabadikan pada 19 Agustus 2026 ini menampilkan aktivitas kelas reguler bahasa Mandarin di BINUS School Semarang, di Semarang, Jawa Tengah. (Xinhua/Istimewa)
Menurutnya, fenomena serupa dapat dilihat dari popularitas K-Pop dan drama Korea. Banyak penggemar di Indonesia secara tidak langsung terdorong mempelajari bahasa Korea karena ingin memahami lagu, dialog, atau percakapan idolanya. Hal yang sama dapat ditiru para penggemar aktor, aktris, musik, atau Dracin.
Garis besarnya, belajar bahasa Mandarin bukan sekadar mengejar kemampuan untuk berbicara atau menghafalkan karakter sebanyak mungkin. Tujuan yang lebih penting adalah membuatnya perlahan menjadi bagian dari keseharian.