Kepala Departemen Kesiapsiagaan dan Pencegahan Pandemi WHO, Maria Van Kerkhove, mengonfirmasi bahwa penularan antar manusia hanya terjadi dalam kondisi kontak yang sangat erat, seperti antara pasangan atau perawat pasien.
Kapal itu sendiri membawa total 147 orang (88 penumpang dan 59 awak) dengan berbagai kewarganegaraan.
Pemerintah setempat di Tanjung Verde, bersama dengan negara-negara lain seperti Belanda, Afrika Selatan, dan Inggris, terus melakukan pelacakan kontak secara intensif.
Semua penumpang dan awak yang masih berada di atas kapal saat ini dilaporkan tidak menunjukkan gejala apapun.
Sementara itu, Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) Amerika Serikat pada 14 Mei 2026 melaporkan bahwa 41 orang di AS saat ini dalam masa pemantauan selama 42 hari karena riwayat kontak dengan pasien, termasuk mereka yang berada dalam satu penerbangan dengan penderita.
Mereka yang bergejala akan segera diuji, namun hingga kini belum ada kasus baru di AS.
Otoritas Kesehatan Kanada juga mengonfirmasi satu kasus positif pada 16 Mei 2026 terkait perjalanan kapal yang sama, dan menegaskan risiko terhadap populasi umum di Kanada tetap rendah.
WHO mengapresiasi solidaritas global dalam penanganan insiden ini dan menegaskan kembali bahwa tidak diperlukan pembatasan perjalanan internasional berdasarkan bukti ilmiah yang ada saat ini.