CARAPANDANG - Operasi militer Israel yang dilancarkan di Tepi Barat bagian selatan pada Rabu (19/8) memberlakukan jam malam terhadap sekitar 40.000 warga Palestina, sehingga membatasi akses mereka terhadap kebutuhan sehari-hari, kata badan-badan kemanusiaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).
"Operasi ini menimbulkan dampak kemanusiaan langsung karena masyarakat tidak dapat mengisi kembali pasokan mereka, mengakses layanan esensial, atau sekadar pergi ke tempat kerja mereka," ungkap Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan (OCHA).
OCHA mengatakan operasi yang dilancarkan di Adh Dhahiriya, Kegubernuran Hebron, sekitar 30 km di selatan Yerusalem, tersebut melibatkan sejumlah penembak jitu yang ditempatkan di atap-atap bangunan dan memblokade jalan dengan gundukan tanah. Para mitra memperkirakan sekitar 40.000 orang, termasuk anak-anak, tidak diizinkan meninggalkan rumah mereka.
Dalam pembaruan berita hariannya, OCHA menyebutkan bahwa mitra-mitranya melaporkan sekitar tujuh rumah warga Palestina juga digunakan sebagai pusat interogasi, setelah pasukan Israel mengurung sejumlah keluarga di dalam satu ruangan. Selain itu, beberapa penangkapan juga dilaporkan terjadi.