Badan pengawas obat dan makanan di berbagai negara, termasuk FDA Amerika Serikat dan BPOM Indonesia, sebelumnya telah menyetujui penggunaan erythritol dengan status "Generally Recognized as Safe" (GRAS).
Masyarakat dapat dengan mudah menemukan kandungan erythritol pada berbagai produk pangan olahan, antara lain:
· Minuman ringan dan teh kemasan berlabel "zero sugar" atau "rendah kalori" .
· Permen karet, permen, dan cokelat bebas gula .
· Es krim dan yogurt khusus diet, seperti yang populer dalam pola makan keto .
· Makanan panggang (bakery) dan selai rendah kalori .
· Dijual bebas sebagai pemanis meja pengganti gula pasir dalam kemasan.
Meskipun studi observasional tidak dapat membuktikan hubungan sebab-akibat secara langsung, para peneliti menyerukan evaluasi ulang terhadap keamanan jangka panjang erythritol dan alkohol gula lainnya.
Dr. W.H. Wilson Tang, rekan penulis studi dari Cleveland Clinic, menyarankan pasien berisiko tinggi untuk sementara waktu menghindari makanan olahan "bebas gula" dan sesekali memilih makanan manis dengan gula asli sebagai gantinya.
Sementara itu, Otoritas Keamanan Pangan Eropa (EFSA) dalam evaluasi ulangnya pada Desember 2023 juga menetapkan asupan harian yang dapat diterima (ADI) untuk erythritol sebesar 0,5 g/kg berat badan per hari.
EFSA memperingatkan bahwa paparan kronis pada anak-anak dan remaja dapat melebihi batas aman ini, yang berpotensi menyebabkan efek laksatif (diare) dan ketidakseimbangan elektrolit.