Seiring waktu, sejumlah organisasi khusus krionika berdiri, di antaranya Alcor Life Extension Foundation (berdiri 1972) dan Cryonics Institute (didirikan Robert Ettinger pada 1976).
Lembaga-lembaga ini mengembangkan prosedur lebih sistematis, termasuk teknik vitrifikasi, yaitu proses penggantian cairan tubuh dengan zat krioprotektan untuk mencegah pembentukan kristal es yang dapat merusak sel.
Proses krionika dilakukan segera setelah seseorang dinyatakan meninggal secara hukum.
Tubuh didinginkan, darah diganti dengan cairan pelindung, lalu disimpan dalam tabung khusus berisi nitrogen cair.
Biayanya tidak murah, di Amerika Serikat bisa mencapai ratusan ribu dolar, tergantung apakah yang disimpan seluruh tubuh atau hanya otak (neurocryopreservation).
Meski teknologi pembekuan sel dan jaringan telah berkembang pesat—terutama dalam bidang medis seperti penyimpanan embrio dan organ—krionika manusia tetap menjadi perdebatan.
Hingga kini, belum ada bukti ilmiah bahwa manusia atau mamalia kompleks yang telah dibekukan dalam kondisi tersebut dapat dihidupkan kembali secara utuh dan sadar.
Banyak ilmuwan arus utama memandang krionika sebagai spekulatif, bahkan pseudoscience, karena belum ada teknologi yang mampu membalikkan kerusakan biologis akibat kematian maupun proses pembekuan itu sendiri.