Hal senada disampaikan Siti Rustima dari SDN Krukut 03 Pagi. Ia menekankan pentingnya kolaborasi dalam pendidikan inklusif. “Program ini menjadi ruang berbagi antar guru dalam menangani anak berkebutuhan khusus, mulai dari penyusunan pembelajaran hingga penanganan berbagai kondisi. Kami juga membutuhkan dukungan orang tua, keberadaan GPK, serta asesmen seperti tes IQ agar layanan bisa lebih tepat sasaran,” jelasnya.
Sementara itu, Soleh Ekowati dari SMP 16 Jakarta Selatan mengapresiasi pelatihan yang memperkuat kapasitas guru di sekolahnya. “Pelatihan ini sangat membantu meningkatkan keterampilan kami dalam mendampingi siswa berkebutuhan khusus. Meski masih ada keterbatasan tenaga dan fasilitas, kami berharap ke depan dapat didukung dengan kehadiran GPK serta keberlanjutan program ini,” ungkapnya.
Rifai, guru dari SD Cipinang Besar 20 Pagi, juga menilai program ini sebagai langkah penting dalam mendorong pemerataan pendidikan. “Program ini sangat membantu penerapan pembelajaran berdiferensiasi di kelas. Harapannya, program ini terus berlanjut dan didukung dengan sarana serta penambahan tenaga ahli, sehingga layanan pendidikan bagi semua siswa dapat berjalan lebih optimal dan merata,” tuturnya.