Pertama, adalah kebijakan fiskal di pasar domestik. Permintaan kendaraan listrik di AS masih berjuang menyesuaikan diri setelah insentif kredit pajak federal senilai 7.500 dolar AS (sekitar Rp117 juta) resmi dicabut pada akhir September 2025. Hilangnya subsidi ini membuat harga mobil Tesla menjadi kurang kompetitif bagi konsumen kelas menengah.
Kedua, adalah masalah yang lebih sensitif, citra publik. Laporan tersebut mencatat bahwa Tesla telah menghadapi perlambatan penjualan di pasar-pasar kunci bahkan sebelum insentif pajak berakhir. Penurunan ini terjadi di tengah reaksi keras publik (backlash) yang terkait dengan sikap politik CEO Elon Musk, termasuk dukungan vokalnya terhadap Presiden AS Donald Trump dan tokoh-tokoh sayap kanan lainnya.
Hal tersebut memperburuk posisi Tesla yang kini harus bertarung menghadapi kompetisi yang kian intensif, tidak hanya dari BYD dan pabrikan China, tetapi juga dari kebangkitan produsen otomotif Eropa. (SF)