“Dahulu anak-anak belajar dari alam dan lingkungan sekitar. Semua yang ada di alam seperti kayu, batu, rotan, hingga tali dapat menjadi media permainan sekaligus pembelajaran kehidupan,” katanya.
Mahyeldi juga menyinggung momentum satu abad Jam Gadang sebagai simbol kebanggaan masyarakat Sumbar sekaligus saksi perjalanan sejarah daerah. Ia berharap peringatan tersebut menjadi momentum memperkuat identitas budaya serta mendorong sektor pariwisata dan ekonomi kreatif masyarakat.
“Peringatan satu abad Jam Gadang harus menjadi momentum untuk memperkuat budaya daerah serta menggerakkan pariwisata dan ekonomi kreatif masyarakat,” ungkapnya.
Pemprov Sumbar, lanjut Mahyeldi, terus mendorong pelestarian permainan anak nagari melalui festival budaya, penguatan edukasi budaya di sekolah, pemanfaatan media sosial, serta revitalisasi ruang terbuka sebagai sarana bermain anak.
Sementara itu, Wakil Walikota Bukittinggi, Ibnu Asis mengapresiasi dukungan Pemerintah Provinsi Sumbar terhadap penyelenggaraan Alek Anak Nagari sebagai ruang edukasi budaya bagi generasi muda.
Menurutnya, kegiatan tersebut penting untuk menjaga keberlangsungan budaya lokal sekaligus menanamkan nilai kebersamaan, disiplin, gotong royong, dan kecintaan terhadap budaya daerah di tengah perkembangan era digital.
“Kami berharap Alek Anak Nagari dapat terus dilaksanakan secara berkelanjutan dan menjadi agenda rutin Kota Bukittinggi,” ujar Ibnu Asis.