Perilaku ini juga menjelaskan kenapa akuarium arowana harus tertutup rapat. Karena sekali lengah, “ikan naga” ini bisa benar-benar terbang keluar!
4. Kumis sensorik yang super sensitif
Di bagian depan mulutnya terdapat dua struktur seperti kumis (barbel) yang berfungsi sebagai alat sensor. Barbel ini sangat sensitif terhadap getaran air dan membantu arowana mendeteksi mangsa dalam kondisi minim cahaya atau air keruh.
Menurut penelitian skripsi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, organ sensorik seperti ini merupakan adaptasi penting bagi predator yang mengandalkan kecepatan dan presisi. Pada arowana, barbel juga berperan dalam orientasi ruang saat berburu.
Selain fungsi biologisnya, barbel ini juga memperkuat citra “naga” pada siluk merah. Seolah ia adalah makhluk mitologis yang tersesat di dunia nyata.
5. Ayah yang mengandung anak
Salah satu keunikan paling mencengangkan dari siluk merah adalah sistem reproduksinya. Arowana jantan melakukan mouthbrooding, yaitu mengerami telur dan anaknya di dalam mulut.
Penelitian dalam Journal of Fish Biology menunjukkan bahwa jantan bisa menyimpan telur selama 6—8 minggu tanpa makan, demi melindungi keturunannya dari predator. Ini adalah bentuk parental care yang sangat jarang di dunia ikan.
Fenomena ini membalik stereotip umum dalam dunia hewan, di mana betina biasanya lebih dominan dalam pengasuhan. Pada siluk merah, justru sang ayah yang berkorban total.